Monday, 3 June 2013
Monday, 27 May 2013
cd
Aku heran melihat
orang yang sudah tahu dia akan mati, tetapi masih tertawa. Aku heran melihat
orang yang sudah tahu bahwa dunia akan binasa, tapi masih mencintainya. Aku
heran melihat orang yang sudah tahu bahwa semua perkara terjadi menurut takdir,
tapi masih bersedih karena kehilangan sesuatu. Aku heran melihat orang yang
sudah tahu bahwa di akhirat ada perhitungan, tapi masih sibuk mengumpulkan
harta. Aku heran melihat orang yang sudah kenal dengan neraka, tetapi masih
melakukan dosa. Aku heran melihat orang yang sudah mengenal Allah dengan yakin,
namun masih mengingat selain-Nya. Aku heran melihat orang yang sudah mengenal
setan sebagai musuhnya, tetapi masih mau mematuhinya.
(Utsman bin Affan)
ba
Friday, 17 May 2013
Hikmah Part 2
KEMATIAN
Di alam ini, tak ada yang pasti kecuali kematian. Kematian,
kata Ghazali, pasti, sedangkan yang lain tak ada yang pasti. Meskipun begitu,
manusia cenderung abai dan tak hirau dengan kematian. Biasanya, manusia mengingat
kematian jika kebetulan ada kereta jenazah lewat didepannya. Ia pun buru-buru
ber-istirja’, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kematian
(al-maut) menyerang siapa saja dan sering kali tiba-tiba (ja’al fuj’atan). Maut merenggut nyawa orang tua, anak-anak, orang
biasa, orang hebat dan siapa saja.
“Katakanlah,
‘Sesungguhnya yang kamu lari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan
menemui kamu.” (QS Al-Jum’ah 62:8). Karena wataknya yang seperti tak mengenal
belas kasihan, kematian itu disebut oleh Nabi dengan istilah hadzim al-ladzdzaat, yakni penghancur
kenikmatan dan kelezatan duniawi (HR Tirmidzi, Nasa’I dan Ahmad dari Abu
Hurairah).
Sebagian
ulama menyebutnya dengan istilah, mufarriq
al-ahbab (yang menceraikan manusia dari orang-orang yang dicinta) dan musyattit al-jam’iyyah (yang memutuskan
manusia dari kelompok sosialnya). Meskipun merupakan fenomena sehari-hari,
manusia belum sepenuhnya mengetahui hakikat kematian itu. Menurut Al-Ghazali,
kematian itu bukan tak adanya hidup, melainkan berubahnya keadaan.
Ini
berarti, dengan mati (kematian), bukanlah kehidupan itu tidak ada. Kehidupan
tetap ada, tetapi berubah dalam wujud (kehidupan yang lain). Dalam al-‘Adl al-ilahi, Murtadza Muthahhari
menerangkan perbedaan kehidupan itu, yakni kehidupan dunia dan kehidupan
akhirat.
Dikatakan,
kehidupan dunia tak sejati karena masih bisa bercampur dengan yang hak dan
batil, kejujuran dan kepalsuan, serta antara pejuang dan pengkhianat. Ini
berbeda dengan kehidupan akhirat yang disebutnya murni dan sejati. Dalam
Alquran, kematian disebut dengan beberapa terma, antara lain, al-maut, al-wafah, al-ajal, dan al-ruju’ yang secara harfiah berarti kembali. Bila
menunjuk kata yang terakhir , al-ruju’,
kematian bisa dipahami sebagai proses perjalanan pulang menuju negeri akhirat, kampung
halaman kita yang sebenarnya.
Secara
kejiwaan, pulang atau perjalanan pulang merupakan kegiatan paling menyenangkan
karena setiap orang, menurut fitrahnya ingin cepat-cepat pulang (kembali).
Tradisi pulang kampung (mudik) sangat menyenangkan meski berdesak-desak dan
macet sepanjang jalan. Jadi, kematian itu seperti “mudik” ke tanah leluhur,
mestinya menyenangkan, dengan satu syarat, bekal yang cukup, yaitu kebaikan
(amal shaleh).
Sebagai
muslim, kita mesti mampu memetik pelajaran dari setiap peristiwa kematian.
Pertama , karena kematian pasti, kita mesti selalu mengingatnya dan
menjadikannya sebagai nasehat. Kedua, karena kematian sejatinya merupakan perjalanan
pulang, kita mesti memperbanyak bekal, ibadah dan amal shaleh. Ketiga, tidak
boleh lupa, kita berdoa kepada Allah agar tidak kembali kehadirat-Nya kecuali
dalam keadaan islam.
Tuesday, 14 May 2013
Friday, 10 May 2013
Tuesday, 7 May 2013
Saturday, 4 May 2013
HIKMAH
Saat Di Hina
‘’ Ustaz, saya tidak melakukan satu
kesalahan pun. Bahkan saya selalu merasa berbuat baik padanya. Namun, semuanya
seperti debu yang tersapu angin, hilang dan tidak berbekas. Tragisnya lagi,
kata-kata kotor dan merendahkan justru berhamburan dari lisannya! Saya dihina
habis-habisan,” seorang jamaah mengeluh selepas halaqah dengan nada super
kesal.
Atas
curhatan seorang jamaah ini, ada baiknya kita melihat kembali sejarah
Rasulullah SAW yang pernah mendapati keadaan yang lebih buruk dari itu. Seperti
dituturkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq. Suatu ketika, sahabat terdekat Nabi ini
termenung. Ia terus bertanya-tanya, amal saleh apa yang pernah dikerjakan oleh
Rasulullah, tetapi belum ia kerjakan.
Maka,
ia pun bertanya kepada anaknya, Aisyah, yang juga merupakan istri Nabi. “wahai
anakku, apa kira-kira amal yang pernah dilakukan oleh Rasulullah ketika masih
hidup tapi belum pernah aku kerjakan?”, Aisyah menjawab, “Rasulullah selalu
memberi makan kepada seorang Yahudi buta di pojok sudut pasar.” Tidak menunggu
waktu lama, Abu Bakar pun menghampiri perempuan tersebut.
Sambil
mengeluarkan roti, Abu Bakar mendekati perempuan Yahudi itu. Benar, perempuan
buta itu terus saja mengatakan hal buruk-buruk tentang Rasulullah. Ia menghina
Rasulullah dan menyuruh orang-orang dipasar untuk tidak mengikuti ajakan
Muhammad. Abu Bakar mendengar itu semua dengan gejolak hati tidak
menentu.
Ia
tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Rasulullah saat memberi makan
perempuan buta itu. Padahal telinga beliau dibombardir kalimat-kalimat ejeken
dan hinaan. Suapan pertama pun telah masuk. Tapi terkagetlah Abu Bakar. Sambil
memuntahkan kembali suapannya, perempuan buta itu berkata ketus, “siapa kamu,
kamu bukan orang yang biasa memberi aku makan.”
Abu
Bakar berkata, “Dari mana engkau tahu bahwa aku bukanlah orang yang biasa
memberimu makan?” Perempuan itu menjawab, “Makanan yang engkau beri tidak kau
haluskan lebih dulu, orang yang biasa memberiku makan selalu menghaluskan
makanan lebih dulu karena ia tahu gigiku sudah tak sanggup lagi mengunyah
makanan”.
Tidak
sabar dengan keadaan yang tak menentu di hatinya ini, Abu Bakar sambil terisak
berujar, “Ketahuilah, orang yang biasa memberimu makan sudah wafat beberapa
hari yang lalu dan aku adalah sahabatnya. Orang yang biasa memberimu makan
adalah Muhammad, lelaki yang tiap hari selalu bersabar meski kau hina dan caci,
sedangkan ia tak pernah berhenti menyuapkan makanan ke mulutmu.
Perempuan
Yahudi yang buta itu kaget bukan main. Dan , tak lama kemudian tangisannya pun
pecah. Ia menyesal belum sempat minta maaf kepada orang yang sangat peduli
dengannya. Padahal, tidak ada seorang keluarganya pun yang peduli.
Subhanallah,
saat hinaan dibalas dengan kesabaran, ternyata buahnya adalah ilmu, hikmah, dan
hadiah yang luar biasa dari ALLAH SWT. Sebagaimana perempuan Yahudi yang
kemudian bersyahadat ini, semoga saja dengan tetap bersabar akan terbersit
pintu kebaikan dalam hidup kita. Amin
Wednesday, 1 May 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)



























































